Rindu Daripada Gajian

Betapa malunya jika si anak tunggal yang sama sekali tidak tampan tapi keren ini gagal berkemauan untuk berpenghasilanaku

Pertengahan bulan dimana aku dan mungkin pekerja lainnya sedang mengencangkan ikat pinggang untuk sebisa mungkin mengeluarkan uang supaya tidak “punah” sebelum tanggal gajian.

infografis-rindu-gajian

“Isu Klasik” para pekerja ini bagiku adalah tempaan untuk mengajariku pintar dalam mengeluarkan uang dan soal bagaimana aku mengatur strategi untuk bertahan hidup. Hanya bertahan hidup? Tentu saja tidak, bahwa gol daripada aku bekerja adalah mencapai taraf hidup yang layak bukan saja untukku tapi untuk orang tua, istriku kelak dan anak-anakku di masa mendatang.

Apakah aku sudah pintar mengelolanya?

Sudah barang tentu belum!

Aku tidak mau membahas cara mengelola pendapatan dalam versiku. Dan jangan harap aku membuka angka berapa pendapatanku per bulan!. Tidak etis.

Di sela menunggu hujan reda untuk pulang ke apartemen, aku seperti diingatkan oleh tulisan yang pernah kumuat di blog, bahwasanya “Manusia: Lahir, Sekolah, Bekerja lalu Mati”. Aku merasa dikuatkan oleh niatku yang dulu meninggalkan Solo lalu hijrah ke Jakarta tak lain dan tak bukan adalah usahaku untuk melewati fase hidup dengan caraku sendiri. Bahwa aku harus berprinsip, berkarya dan tentu saja berpenghasilan. Kodratku sebagai seorang lelaki.

Seteguh pendirianku, sekuat kuda-kuda kakiku, dan setegak kepalaku sudah kualirkan dalam berjuta-juta sel darah yang mengalir di tubuhku, selaput-selaput ototku dan kujadikan doktrin yang terus kucemarkan dalam otakku bahwa aku harus berkarya dan berpenghasilan meskipun aku tak tahu aku akan mendapat pendapatan sebesar berapa setelah aku mengusap air mata mamahku yang perasaan luluh lantak ditinggal anak semata wayangnya yang keras kepala ini untuk menjalani satu fase kehidupannya. Bekerja! Betapa malunya jika si anak tunggal yang sama sekali tidak tampan tapi keren ini gagal berkemauan untuk berpenghasilan!

Rinduku dalam menanti gajian di awal-awal aku bekerja selalu terbalut dengan harapan. Harapan yang menguatkan aku untuk tidak berjalan mundur, misalnya menyerah lalu pulang ke Solo lagi. Meskipun, tanpa kusangkal, aku babak belur saat mendapati isi dompet yang tidak sebanding dengan nafsuku!

Aku diuji dengan rasa jumawa yang timbul, “Ini uang dari jerih payahku. Ini gajiku! Ini uangku!” Tuhan tak lupa melancarkan berbagai macam caranya untuk mengujiku. Kejadian-kejadian dimana aku harus melepaskan semua dari ke-aku-anku. Cara-cara-Nya sangat menggetarkan paha kakiku yang awalnya sangat kuat untuk melakukan kuda-kuda. Meskipun kutahu cara untuk menguatkannya kembali: bersyukur!

Dengan cara sang pencipta dan kesadaranku, aku merasakan nikmatnya saat penantian berjuta-juta pegawai itu berakhir. Aku merasakan jeratan lubang ikat pinggang paling ujung yang sangat membuatku sesak dan kadang dalam kesesakanku aku ingin berteriak seperti lirik Pesawat Tempur – Iwan Fals, “Penguasa! Penguasa! Berilah hambamu uang! Beri hamba uang!”.

Dalam hasil riset yang kutemukan di sini, aku jadi tahu kecenderungan orang Indonesia termasuk aku soal pengeluaran.

Aku, bulan lalu juga merasakan betul bahwa kocek yang harus kurogoh untuk pengeluaran nomer 2 di infografis yang kubuat di atas sangat mencekek meskipun hanya 19%!

So, aku akan tetap menghidupi keputusan, aku menguatkan diri untuk menegakkan kepalaku, aku akan berusaha bersyukur agar aku tidak mengumpat dalam jeratan ikat pinggang dan aku akan merayakan Pekan ATM Nasional sebagai acara puncak dari drama “Rindu Daripada Gajian”bersama berjuta-juta pegawai yang kuyakin berpengharapan sama sepertiku.

Diberkatilah kamu wahai para pegawai, teruslah berkarya dan biarlah harapanmu menjadi sinar penerang untuk tujuan hidupmu. Milikilah asuransi kesehatan supaya 7% pengeluaranmu tidak membebani orang tua, istri atau anakmu!

… berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya …

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *