Ngopi

Perihal mengawali aktifitas dengan secangkir minuman yang beraroma khas. Serbuk berwarna gelap yang diseduh air panas lalu menyemburkan uap-uap sugesti kekuatan untuk menaklukan hari.

Kapan hari ada yang yang menanyakan, “kamu doyan kopi kok tidak mau kalau nongkrong di kedai kopi?”

Simpel, karena aku tidak menikmati suasananya. Walaupun aku mengatakan kalau rasa yang ditawarkan kedai kopi yang mempunyai jenama kenamaan seperti Starbucks rasanya sangat patut untuk dipujikan. Harganya mahal? Tidak! Dengan rasa yang didapat, kecepatan penyajian, isu higienis dan tak perlu repot-repot untuk mencuci gelas atau piring untuk kudapan itu tidak layak kalau aku menyebutnya mahal.

Lalu kenapa tidak nyaman dengan “kemewahan” itu? Bagiku menyeduh kopi itu sangat personal. Biasanya bangun tidur aku berusaha sangat keras untuk membawa badan yang nyawanya masih melekat di bantal untuk merapat ke dapur. Lalu dengan mata yang masih berat aku membuka tempat kopi, krimer dan gula. Mengusahakan agar dapat rasa yang pas, aku menakarnya dengan sendok teh. Untuk mendapatkan rasa yang pas itu sendiri tidak mudah, aku harus berulang kali mencoba takaran untuk beberapa macam kopi. Mendapat kopi yang pahit, asam atau hambar sangat sering kudapati apalagi kalau aku belum pernah menyeduh jenis atau merk kopi tersebut sebelumnya. Semalas-malasnya, aku akan menyeduh kopi sachet saja. Robek bungkusnya, tuang lalu cor air panas. Beres!

Lalu dalam urusan menikmatinya, aku lebih senang meminum kopi dengan keadaan hening atau aku sedang melakukan pekerjaan di depan laptop saja. Kalau sudah ngobrol dengan orang lain aku lebih suka menemaninya dengan teh atau bir sekalian!

Ya, orang berbeda-beda. Begitu pula kedai kopi. Suasana, varian dan rasa kopinya beragam. Tinggal bagaimana menikmatinya. 🙂

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *