Aku Wong Jowo, Su!

Ndre, ghimana kabar lhu!? Guwe dhenger-dhenger lu sekarang gawe di Jakarta, ya!? Udah brapa taon?teman gaul

andre-blangkonMeskipun bahasa yang dipakai untuk percakapan sehari-hari 2 tahun ini adalah bahasa Indonesia yang metropolis tapi aku tidak pernah ingin berusaha keras untuk belajar menghilangkan pelafalanmedhok-ku. “Jingan!”, “Su!”, “Piye iki, dab!?”, “Wuasu! Leptopku henk!” Kata-kata itu masih sering keluar dari mulutku.

Kenapa? Karena tidak berusaha menjadi orang lain itu asik. Dan medhok tidak harus dihilangkan.

Pun dengan logat China-Solo yang khas. “Kowe ndek mana?” (Kamu dimana? -jw), “Aku da sini” (Aku di sini -jw), “Da sana ada sapa ae?” (Disana kamu sama siapa saja? -jw). Akupun tidak mempunyai logat seperti itu meskipun aku juga lahir dari rahim ibu yang tacik-tacik (cici -jw). Ehm, mungkin aku jarang nongkrong bersama mereka di food court mall yang biasanya disambung dengan foto-foto di photobox yang kala itu sedang hip! Kenapa tidak ikut nongkrong? Tidak punya uang untuk menebus makanannya tentu saja. Tapi itu bukan soal, tapi aku lebih nyaman bersama-sama teman-teman kampung dan bermain karambol di masjid.

Jarang sekali dipanggil koko atau koh. Bahkan komunitasku di Solo memberi julukan “Cina Palsu / Cina KW sekian”. hahahah. Teman SMA-ku yang rata-rata juga keturunan tak lupa juga menanyakan apakah aku merayakan Imlek sebelum memberikan selamat! Ada pula yang pernah mengajakku makan daging babi, sebelumnya ia tak lupa bertanya, “Kamu makan babi, kan, Ndre!?”. “Ora!” (tidak! -jw). Dia pun percaya! “Ora, nek sithik! hahaha” (Tidak, kalau sedikit -jw)

Aku baru saja ditelepon teman SD. Dimana dia menanyakan kabar dengan bahasa super metropolitan. “Ndre, ghimana kabar lhu!? Guwe dhenger-dhenger lu sekarang gawe di Jakarta, ya!? Udah brapa taon?”

“Wis to, su, su! Dewe iki wong jowo, biyen nekeran nganggo boso jowo tur karo misuh barang. Ngomong nganggo boso jowo wae. Aku nek mangsuli pertanyaanmu ki ilatku iso keseleo!” sergahku sebelum aku muntah mendengar dia berucap dengan bahasa gaul yang sangat dipaksakan itu.

(Sudahlah. Kita ini orang jawa, dulu main kelereng pakai bahasa Jawa dan pakai bicara kotor juga. Ngomong pakai bahasa Jawa saja. Aku kalau mau jawab pertanyaanmu nanti lidahku bisa keseleo. -jw)

Jadi, supaya aku tak muntah berkelanjutan dengan misalnya usaha konyolku untuk “mengupgrade” menjadi orang berlogat Jakarta yang kental, akupun berpikir bahwa hal yang paling maksimal yang dapat kulakukan hanyalah bagaimana caranya supaya aku tetap menarik dan menjadi point of interest di tengah lingkungan (dimanapun aku berada) tanpa harus minder terhadap logat Jawaku.

Dalam padanan kata yang lebih singkat, peduli setan apa kata orang tentang ke-medhok-an ku, hal itu tak kan berpengaruh terhadap menarik/tidaknya eksistensi diriku

Ngono, su!?

1 Comment Aku Wong Jowo, Su!

  1. sigit

    Menarik iki, susah saiki golek wong jowo tur njowoni ning jakarta iki. Aku dewe awit 2017 sampe saiki nganggoku boso jowo 75%.
    Salam wong jowo ngrantau ning jakarta, manggon ning sebelah wisma atlit kemayoran

    Reply

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *